<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Salafy Indonesia</title>
	<atom:link href="http://salafiindo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafiindo.wordpress.com</link>
	<description>Mengajak Umat untuk Kembali Ber-Islam yang Benar</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 May 2011 11:34:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafiindo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Salafy Indonesia</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafiindo.wordpress.com/osd.xml" title="Salafy Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafiindo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perayaan Valentine Days dalam Sorotan</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/08/perayaan-valentine-days-dalam-sorotan/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/08/perayaan-valentine-days-dalam-sorotan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 02:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Menyorot Perayaan Valentine Days Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta. Jika kita berbicara tentang cinta, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=43&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b>Menyorot Perayaan Valentine Days </b></p>
<p align="justify"> Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><span id="more-43"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan <b>momen terpenting bagi</b><b>para pemuja nafsu.</b><!--more--></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah <b>&#8220;Valentine Days&#8221;</b> (Hari Kasih Sayang?).</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b> Definisi Valentine Days </b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri defenisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan defenesi Valentine di tiga tempat :</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b><i> Ensiklopedia Amerika</i></b> (volume XIII/hal. 464) menyatakan, <i>&#8220;Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M&#8221;.</i></li>
<li><b><i> Ensiklopedia Amerika</i></b> (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, <i>&#8220;Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)&#8221;.</i></li>
<li><b><i> Ensiklopedia Britania</i></b> (volume XIII/hal. 949), <i>&#8220;Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama&#8221;. </i></li>
<li><b> Sejarah Singkat Valentine Days </b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama <i>Lupercus</i>. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan <b>seorang pendeta kristen yang bernama Valentine.</b> Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar <i>Cladius II</i>. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, <i>Lupercus</i>. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu <b>Santo Valentine</b>.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara <i>Lupercaria</i> yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi <b>14 Februari</b> yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan <i>Lupercaria</i> sudah tidak ada lagi dan diganti dengan <b>&#8220;Valentine Days&#8221;</b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Sesuai perkembangannya, <b>Hari Kasih Sayang</b> tersebut menjadi semacam <b>rutinitas ritual</b> bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b><i> Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days </i></b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah <i>-Ta’ala-</i> . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan <b>Hari Kasih Sayang</b> (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b> Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir </b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan <i>manhaj</i> (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy</b><i>-rahimahullah-</i> berkata, <i>&#8220;Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global&#8221;</i>.[Lihat <b><i>Al-Iqtidho’</i></b> (hal.186)].</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Ikut merayakan <b>Valentine Days</b> termasuk bentuk <i>tasyabbuh</i> (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah <i>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</i> bersabda,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ </b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> &#8220;Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut&#8221;.</i> [HR. Abu Daud dalam <b><i>Sunan</i></b>-nya (4031) dan Ahmad dalam <b><i>Al-Musnad</i></b> (5114, 5115, &amp; 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam <b><i>Al-Mushonnaf </i></b>(19401 &amp; 33016), Al-Baihaqiy dalam <b><i>Syu’ab Al-Iman </i></b>(1199), Ath-Thobroniy dalam <b><i>Musnad Asy-Syamiyyin</i></b> (216), Al-Qudho’iy dalam <b><i>Musnad Asy-Syihab</i></b> (390), dan Abd bin Humaid dalam <b><i>Al-Muntakhob </i></b>(848). Hadits ini di-<i>shohih</i>-kan oleh Al-Albaniy dalam <b><i>Takhrij Musykilah Al-Faqr</i></b> (24)].</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> Seorang Ulama Mesir,</b><b>Syaikh Ali Mahfuzh</b><i>-rahimahullah-</i> berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, <i>&#8220;Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, &#8220;Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka&#8221;. Kami (para sahabat) bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Siapa lagi kalau bukan mereka&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-]&#8220;.</i>[Lihat <b><i>Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’</i></b> (hal. 254-255)]</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Namun disayangkan, Sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan <b>Valentine Days</b>. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan.Kita Cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b> Pengantar Menuju Maksiat dan Zina </b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (<b>Valentine</b><b>Days</b>) digunakan untuk <b>meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih</b>, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Allah <i>-Subhanahu wa Ta’la-</i> berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</b><b></b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> &#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk&#8221;.</i> (QS. <b>Al-Isra’</b> : 32)<b></b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Rasulullah <i>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</i> bersabda,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ </b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> &#8220;Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram&#8221;. </i> [HR. Al-Bukhoriy dalam <b><i>Shohih</i></b>-nya (4935), dan Muslim dalam <b><i>Shohih</i></b>-nya (1241)] .</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Rasulullah <i>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</i> bersabda:</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ </b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> &#8220;Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya&#8221;. </i> [HR. Ath-Thabrani dalam <b><i>Al-Kabir</i></b> (486). Di-<i>shahih</i>-kan oleh syaikh Al-Albany dalam <b><i>Ash-Shahihah</i></b> (226)]</p>
<div align="justify">
<ul>
<li><b> Menciptakan Hari Rari Raya </b></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Merayakan <b>Velentine Days</b> berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. <b>Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.</b> Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah <i>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</i> bersabda,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ </b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> “Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak”</i> [HR. Al-Bukhariy dalam <b><i> Shahih</i></b> -nya (2697)dan Muslim dalam <b><i> Shahih</i></b> -nya (1718)]</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Nabi <i>-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-</i> bersabda,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ </b></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.</i> [HR. Muslim dalam <b><i> Shahih</i></b> -nya (1718)]</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Allah <i>-Ta’ala-</i> telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> <i>&#8220;Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu&#8221;.</i> (QS.Al-Maidah :3 ).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi <i>-Shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi <i>-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-</i> bersabda kepada para sahabat Anshor,</p>
<div align="justify"></div>
<h3 align="justify"> قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ</h3>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> “Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah.<b> Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik</b> darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”.</i> [HR. Abu Dawud dalam <b><i>Sunan</i></b>-nya (1134), An-Nasa`iy dalam <b><i>Sunan</i></b>-nya (3/179), Ahmad dalam <b><i>Al-Musnad</i></b> (3/103. Lihat <b><i>Shahih Sunan Abi Dawud</i></b> (1134)] .</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b> Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim</b><i>-hafizhahullah- </i>berkata saat mengomentari hadits ini, <i>&#8220;Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu &#8220;.</i>[Lihat <b><i>As-Sunan wa Al-Mubtada’at fi Al-Ibadat</i></b> (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan <b>Valentine Days</b> ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b>Sumber : </b><i>Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</i></p>
<p align="justify">Dinukil dari http://almakassari.com/?p=231#more-231</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=43&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/08/perayaan-valentine-days-dalam-sorotan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">salafiindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuntut Ilmu di Masa Muda</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/05/menuntut-ilmu-di-masa-muda/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/05/menuntut-ilmu-di-masa-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 03:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/05/menuntut-ilmu-di-masa-muda/</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak disebutkan dalam ayat-ayat maupun hadits-hadits shahih. Bahkan sampai di dalam hadits yang dho’if dan palsu, seperti berikut, أَيُّمَا نَاشِئٍ نَشَأَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ حَتَّى يَكْبُرَ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوَابَ اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا &#8220;Anak muda mana pun yang tumbuh dalam menuntut ilmu, dan ibadah sampai ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=42&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak disebutkan dalam ayat-ayat maupun hadits-hadits shahih. Bahkan sampai di dalam hadits yang dho’if dan palsu, seperti berikut,</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> أَيُّمَا نَاشِئٍ نَشَأَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ حَتَّى يَكْبُرَ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوَابَ اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> &#8220;Anak muda mana pun yang tumbuh dalam menuntut ilmu, dan ibadah sampai ia menjadi tua, sedangkan dia masih tetap di atas hal itu, maka Allah akan memberikannya pada hari kiamat pahala 72 orang shiddiqin&#8221;.</i> [HR.Tamam Ar-Raziy dalam <b><i>Al-Fawaid</i></b> (2428), Ibnu Abdil Barr dalam <b><i>Jami’ Al-Ilm</i></b> (1/82)].<span id="more-42"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> Namun hadits ini derajatnya adalah dho’if jiddan (lemah sekali), bahkan boleh jadi hadits ini palsu, karena di dalamnya ada rawi yang bernama Yusuf bin Athiyyah. Dia adalah seorang yang mungkarul hadits. Bahkan An-Nasa’iy menilainya <i>matruk</i> (ditinggalkan karena biasa berdusta atas nama manusia). Karenanya Syaikh Al-Albaniy menghukumi hadits ini dho’if jiddan dalam <b><i>Adh-Dho’ifah</i></b> (700).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><b>Sumber : </b><i>Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 45 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</i></p>
<p align="justify">Dinukil dari http://almakassari.com/?p=223#more-223</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=42&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2008/02/05/menuntut-ilmu-di-masa-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">salafiindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat seorang Da&#8217;i</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2008/01/31/syarat-seorang-dai/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2008/01/31/syarat-seorang-dai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Aqil di Langsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Abu Aqil Al-Atsary Agama Islam adalah nasehat, dan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk-bentuk nasehat, adalah dakwah. Namun sebagaimana amalan-amalan lain yang dipahalai oleh Alloh Ta&#8217;ala, tentunya dakwah amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar mestilah dibarengi dengan ilmu tentangnya dan ilmu tentang apa yang diserukan. Misalnya, jika seseorang mengajak orang lain untuk mendirikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=41&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;"><i>Oleh : Abu Aqil Al-Atsary</i> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Agama Islam adalah nasehat, dan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk-bentuk nasehat, adalah dakwah. Namun sebagaimana amalan-amalan lain yang dipahalai oleh Alloh Ta&#8217;ala, tentunya dakwah <i>amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar</i> mestilah dibarengi dengan ilmu tentangnya dan ilmu tentang apa yang diserukan. Misalnya, jika seseorang mengajak orang lain untuk mendirikan sholat, maka harusnya si pengajak (da&#8217;i) terlebih dahulu mengerti dan memahami segala ilmu tentangnya, sejak dari dalil-dalil pensyariatan sholat hingga tatacara sholat yang benar-benar sesuai petunjuk Rasululloh shallallohu &#8216;alaihi wasallam. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span id="more-41"></span></span><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal" align="left"><span style="font-size:11pt;">Hal inilah yang seringkali diacuhkan begitu saja oleh para da&#8217;i dewasa ini. Maka satu dari sekian banyak ketentuan yang harus ada dalam diri seorang da&#8217;i adalah ilmu tentang apa yang sedang dan yang akan ia serukan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Alloh Ta&#8217;ala berfirman,</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p align="center"><b><span style="font-size:16pt;font-family:TimesNewRoman;" dir="rtl">فَاْعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلمُؤْمِنِينَ وَالمؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُم</span></b></p>
<p align="justify"><span dir="ltr"></span><i><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. </span></i><i><span style="font-size:11pt;">Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.&#8221;</span></i><span style="font-size:11pt;"> [QS. Muhammad : 19]</span><span style="font-size:11pt;">Dengan ayat inilah Al-Imam Bukhary -rahimahullohu ta&#8217;ala- membuat satu bab dengan judul </span><b><span style="font-size:11pt;" dir="rtl">باب العلم قبل القول والعمل</span></b><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;">&#8220;Bab Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.&#8221; [Shohih Bukhary 1/159]</span><span style="font-size:11pt;"> </span><span style="font-size:11pt;">Hal tersebut bisa difahami bahwa Alloh Ta&#8217;ala telah memerintahkan kepada nabi-Nya dengan dua perkara; dengan ilmu dan kemudian amal. Adapun memulainya dengan ilmu itu dijelaskan dalam ayat tersebut, </span><b> </b></p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:TimesNewRoman;" dir="rtl"><b>فَاْعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللهُ</b></span></p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;"></span><i><span style="font-size:11pt;">&#8220;Ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang haq, selain Alloh.&#8221;</span></i></p>
<p align="left"><i><span style="font-size:11pt;"></span></i><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"> Baru kemudian diikuti dengan amal, </span></p>
<p><b><span style="font-size:14pt;font-family:TimesNewRoman;" dir="rtl">وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِك</span></b></p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;"></span><i><span style="font-size:11pt;">&#8220;Dan mohonlah ampunan untuk dosa-dosamu.&#8221;</span></i><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;">Dengan demikian, kita semua menyadari bahwa ilmu adalah syarat bagi amalan dan perkataan. Tanpa ilmu maka amalan dan perkataan itu tidak sangat jauh dari petunjuk Alloh dan RasulNya.</span><span style="font-size:11pt;"> </span><span style="font-size:11pt;">Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullohu ta&#8217;ala- menjelaskan tentang syarat amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar, dengan berkata;</span><b> </b></p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:TimesNewRoman;" dir="rtl"><b>ولا يكون عمله صالحاً إن لم يكن بعلم وفقه .. وهذا ظاهر فإن العمل إن لم يكن بعلم كان جهلاً وضلالاً ، واتباعاً للهوى<span>  </span>وهذا هو الفرق بين أهل الجاهلية</b></span><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p align="justify"><i><span style="font-size:11pt;">&#8220;Dan tidaklah dianggap amalan sholih jika tanpa disertai dengan ilmu,&#8230; dan ini sudah jelas. Maka sungguh amalan itu jika tanpa disertai ilmu adalah kebodohan dan kesesatan, dan hanya mengikuti hawa nafsu saja, yang demikian termasuk golongan ahli jahiliyah / orang-orang bodoh.&#8221; </span></i><span style="font-size:11pt;">[Al-amru bilma'ruf wan nahy anil munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 17]<i></i></span><span style="font-size:11pt;"> </span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;">Hal ini juga sebagaimana atsar dari salafunas sholih, telah diriwayatkan secara marfu&#8217;, AlQadhi Abu Ya&#8217;la<span>  </span>menyebutkan dalam Al-Mu&#8217;tamad,<span>  </span></span><b> </b></p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:TimesNewRoman;" dir="rtl"><b>لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فقيهاً فيما يأمر به ، فقيها فيما ينهى عنه ، رفيقاً فيما يأمر به ، رفيقاً فيما ينهى عنه ، حليماً فيما يأمر به ، حليماً فيما ينهى عنه</b></span><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<div align="justify"><i><span style="font-size:11pt;">&#8220;Janganlah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran kecuali bagi orang-orang yang telah memahami tentang yang diserukan itu, dan yang telah memahami terhadap larangan yang dilarang itu, dan hendaklah lemah lembut dalam menyampaikan apa yang diserukan itu, dan lemah lembut menyampaikan apa yang dilarang. hendaklah juga ia sabar dalam menyeru (kebaikan) dan sabar dalam mencegah (kemungkaran itu). </span></i><span style="font-size:11pt;">[Mukhtasar Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah, hal 131]</span><span style="font-size:11pt;"> </span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"><span style="font-size:11pt;">Maka jelaslah bahwa bagi orang yang tidak memiliki ilmu, usaha yang harus ia lakukan <b><i>pertama sekali adalah menuntut ilmu</i></b> baru kemudian <b><i>setelah itu ia boleh berdakwah.</i></b></span></div>
<p><span style="font-size:11pt;"> </span><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=41&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2008/01/31/syarat-seorang-dai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Aqil di Langsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tasyabbuh Bahaya Laten di Tengah Ummat</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/tasyabbuh-bahaya-laten-di-tengah-ummat/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/tasyabbuh-bahaya-laten-di-tengah-ummat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2007 00:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Luqman</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/tasyabbuh-bahaya-laten-di-tengah-ummat/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tasyabbuh Bahaya Laten di Tengah Ummat &#160; Sejarah mencatat, kehidupan ummat manusia sebelum diutusnya Rasulullah sangatlah jauh dari petunjuk Ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan. Tidak heran bila masa itu dikenal dengan masa jahiliyyah. Ketika kehidupan ummat manusia telah mencapai puncak kebobrokannya, Allah mengutus Rasul pilihan-Nya Muhammad bin &#8216;Abdillah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=40&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><H2>Tasyabbuh Bahaya Laten di Tengah Ummat</H2></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejarah mencatat, kehidupan ummat manusia sebelum diutusnya Rasulullah sangatlah jauh dari petunjuk Ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan. Tidak heran bila masa itu dikenal dengan masa jahiliyyah.</p>
<p>Ketika kehidupan ummat manusia telah mencapai puncak kebobrokannya, Allah mengutus Rasul pilihan-Nya Muhammad bin &#8216;Abdillah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk Ilahi dan agama yang benar, untuk mengentaskan ummat manusia dari jurang kejahiliyyahan yang gelap gulita menuju kehidupan Islami yang terang benderang.</p>
<p>Beliau tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan tentang jalan-jalan kebathilan. Sehingga benar-benar terasa bahwa kenabian dan apa yang beliau bawa merupakan barakah dan rahmat bagi semesta alam. <span id="more-40"></span></p>
<p><em>&#8220;Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.&#8221; </em>(Al-Anbiyaa`:107)</p>
<p>Oleh karena itu, Allah telah menobatkan beliau sebagai suri tauladan terbaik bagi ummat manusia, dan Allah perintahkan seluruh ummat manusia untuk mengikutinya.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian.&#8221; </em>(Al-Ahzaab:21)</p>
<p><em>&#8220;Dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.&#8221; </em>(Al-A&#8217;raaf:158)</p>
<p>Lebih dari itu, Allah mengancam orang-orang yang menentangnya dan menyalahi perintahnya.</p>
<p><em>&#8220;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.&#8221;</em> (An-Nisaa`:115)</p>
<p><em>&#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa &#8216;adzab yang pedih.&#8221;</em> (An-Nuur:63)</p>
<p>Atas dasar itulah, maka segala ajaran yang menyelisihi ajaran Rasulullah adalah bathil dan tidak boleh untuk diikuti, terlebih lagi bila bersumber dari orang-orang kafir. Oleh karena itu, di antara prinsip Islam yang kokoh adalah kewajiban mengikuti jejak Rasulullah dan dilarang untuk mengikuti atau bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah.</p>
<p><strong>Hakekat Tasyabbuh dan Menyelisihi Orang-Orang Kafir</strong></p>
<p><strong>Pengertian Tasyabbuh</strong></p>
<p>Tasyabbuh secara etimologis adalah bentuk mashdar dari tasyabbaha ? yatasyabbahu yang berarti menyerupai orang lain dalam suatu perkara. Sedangkan secara terminologis adalah menyerupai orang-orang kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah dalam hal aqidah, ibadah, perayaan/seremonial, hari-hari besar, kebiasaan, ciri-ciri dan akhlak yang merupakan ciri khas bagi mereka.</p>
<p><strong>Hukum Tasyabbuh dengan Orang-Orang Kafir</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, </p>
<p>&#8220;Telah kami sebutkan sekian dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma&#8217;, atsar (amalan/perkataan shahabat dan tabi&#8217;in), dan pengalaman, yang semuanya menunjukkan bahwa menyerupai mereka dilarang secara global. Sedangkan menyelisihi tata cara mereka merupakan sesuatu yang disyari&#8217;atkan baik yang sifatnya wajib ataupun anjuran sesuai dengan tempatnya masing-masing.&#8221; </p>
<p>(<em>Iqtidhaa Ash-Shiraathil Mustaqiim</em> 1/473)</p>
<p><strong>Siapakah Orang-Orang Kafir yang Tidak Boleh Kita Menyerupainya?</strong></p>
<p>Orang-orang kafir yang tidak boleh kita menyerupainya meliputi ahlul kitab (Yahudi dan Nashara) dan orang-orang kafir lainnya.</p>
<p><strong>Bahaya Tasyabbuh dengan Orang-Orang Kafir</strong></p>
<p>Di antara bahaya dan dampak negatif tasyabbuh adalah:</p>
<p>1. Bahwa partisipasi dalam penampilan dan akhlak akan mewarisi kesesuaian dan kecenderungan kepada mereka, yang kemudian mendorong untuk saling menyerupai dalam hal akhlak dan perbuatan.</p>
<p>2. Bahwa menyerupai dalam penampilan dan akhlak, menjadikan kesamaan penampilan dengan mereka, sehingga tidak tampak lagi perbedaan secara zhahir antara ummat Islam dengan Yahudi dan Nashara (orang-orang kafir).</p>
<p>3. Itu terjadi pada hal-hal yang asalnya mubah. Dan bila terjadi pada hal-hal yang menyebabkan kekafiran, maka sungguh telah jatuh ke dalam cabang kekafiran.</p>
<p>4. Tasyabbuh dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara dunia akan mewariskan kecintaan dan kedekatan terhadap mereka. Lalu bagaimana dalam perkara-perkara agama? Sungguh kecintaan dan kedekatan itu akan semakin besar dan kuat, padahal kecintaan dan kedekatan terhadap mereka dapat meniadakan keimanan seseorang.</p>
<p>5. Lebih dari itu Rasulullah telah menyatakan, </p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.&#8221; </em></p>
<p>(HR. Ahmad dan Abu Dawud dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami&#8217; no.6025)</p>
<p>(Diringkas dari <em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim </em>1/93, 94 dan 550)</p>
<p><strong>Perkara-Perkara yang Termasuk Tasyabbuh dan Diharuskan untuk Menyelisihinya</strong></p>
<p>Perkara-perkara yang termasuk tasyabbuh dan diharuskan untuk menyelisihinya mencakup semua perkara yang merupakan ciri khas bagi mereka (di setiap masa) baik dalam hal aqidah, ibadah, hari-hari besar, penampilan/model, ataupun tingkah laku. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika mengomentari hadits Anas bin Malik, <em>&#8220;Lakukanlah apa saja (terhadap istri kalian) kecuali nikah (jima&#8217;).&#8221;</em> (HR. Muslim no.302)</p>
<p>&#8220;Maka hadits ini menunjukkan bahwa apa yang Allah syari&#8217;atkan kepada Nabi-Nya sangat banyak mengandung unsur penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan beliau menyelisihi mereka dalam semua perkara yang ada pada mereka, sampai-sampai mereka berkomentar, &#8216;Orang ini (Rasulullah) tidaklah mendapati sesuatu pada kami kecuali berusaha untuk menyelisihinya.&#8221; (<em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim</em> 1/214-215, 365)</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin berkata, </p>
<p>&#8220;Tasyabbuh dengan orang-orang kafir terjadi dalam hal penampilan, pakaian, tempat makan, dan sebagainya karena ia adalah kalimat yang bersifat umum. Dalam artian, bila ada seseorang yang melakukan ciri khas orang-orang kafir, di mana orang yang melihatnya mengira bahwa ia termasuk golongan mereka (maka saat itulah disebut dengan tasyabbuh, pent).&#8221; (<em>Majmuu&#8217; Duruus wa Fataawaa Al-Haramil Makkiy </em>3/367)</p>
<p>Perkara-perkara yang merupakan ciri khas mereka tersebut terbagi menjadi tiga jenis:</p>
<p>1. Perkara yang disyari&#8217;atkan dalam agama kita dan juga dalam agama mereka. Atau dahulu bukan syari&#8217;at mereka namun saat ini mereka kerjakan sebagaimana kita mengerjakannya, seperti: shaum &#8216;Asyura (10 Muharram, pent), shalat, dan shaum (puasa). Maka cara penyelisihannya adalah mengerjakannya dengan cara/tuntunan yang berbeda dengan mereka.<br />
Seperti mengiringkan shaum tasu&#8217;a (puasa 9 Muharram, pent) bersamaan dengan &#8216;Asyura, menyegerakan berbuka dan shalat maghrib, serta mengakhirkan sahur.</p>
<p>2. Perkara yang disyari&#8217;atkan dalam agama mereka namun kemudian dimansukh (dihapus) secara total, seperti hari Sabtu atau kewajiban shalat/shaum tertentu. Maka diharamkan bagi kita untuk menyerupai mereka dalam perkara tersebut. Bahkan menyerupai mereka dalam perkara tersebut lebih jelek daripada menyerupai mereka dalam perkara jenis pertama.</p>
<p>3. Perkara yang mereka ada-adakan dalam hal ibadah, adat, atau ibadah yang berkaitan dengan adat. Maka menyerupai mereka dalam jenis ini lebih jelek daripada menyerupai mereka dalam dua jenis lainnya. (Diringkas dari <em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim</em> 1/437-477)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Mobil, Pesawat Terbang, dan Perangkat Teknologi Lainnya?</strong></p>
<p>Memanfaatkan dan meniru mobil, pesawat terbang, alat-alat sains, dan teknologi lainnya bukanlah termasuk dari tasyabbuh. Karena apa yang mereka buat dan kembangkan tersebut hakekatnya bukanlah ciri khas/kekhususan yang mereka miliki. Siapa saja baik muslim ataupun kafir yang bersungguh-sungguh mempelajari dan mengembangkannya akan mampu untuk membuatnya. Demikian pula mengimpor barang-barang tersebut dari negeri-negeri kafir dan menggunakannya, bukanlah bagian dari tasyabbuh. Karena Rasulullah sendiri pernah menggunakan produk orang-orang kafir baik pakaian, bejana, dan lain sebagainya. Sebagaimana pula beliau pernah menerima hadiah dari Muqauqis, seorang raja Mesir yang beragama Nashara. Namun bila penggunaan produk mereka diiringi dengan penerapan kebiasaan, tata cara, dan aturan yang merupakan ciri khas dari mereka (orang-orang kafir) maka yang demikian dilarang dan termasuk dari tasyabbuh. (Diringkas dari <em>Muqaddimah (Muhaqqiq) Iqtidhaa` Ash-Shiraathil Mustaqiim</em> 1/48 dengan beberapa tambahan)</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin berkata, </p>
<p>&#8220;Adapun sesuatu yang sudah tersebar di kalangan ummat Islam dan orang-orang kafir, maka penyerupakan dalam hal ini diperbolehkan walaupun asalnya dari orang-orang kafir, selama bukan sesuatu yang dzatnya haram seperti pakaian sutra (untuk laki-laki, pent).&#8221; (<em>Majmuu&#8217; Duruus wa Fataawaa Al-Haramil Makkiy </em>3/367)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Pantalon?</strong></p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albaniy berkata, &#8220;Pada pantalon (celana panjang yang umum dipakai kaum laki-laki saat ini, red.) ada dua musibah:</p>
<p>1. Pemakainya menyerupai orang-orang kafir, karena ummat Islam dahulu memakai sirwal (celana) yang luas dan lebar, yang sampai hari ini sebagiannya masih dipakai di Syiria dan Lebanon. Ummat Islam tidaklah mengenalnya kecuali setelah masa penjajahan. Dan ketika para penjajah itu hengkang, mereka tinggalkan peninggalan-peninggalan yang jelek, yang akhirnya diambil oleh (sebagian besar) ummat Islam karena kebodohannya.</p>
<p>2. Bahwasanya pantalon itu membentuk &#8216;aurat, karena &#8216;aurat laki-laki adalah dari lutut hingga pusar. Seorang yang mengerjakan shalat sudah seharusnya menjauhkan diri dari maksiat, lalu bagaimana dengan seseorang yang dalam keadaan sujud kepada Allah sementara kedua pantatnya bahkan di antara keduanya tampak membentuk (karena shalat memakai pantalon, pent)?! Bagaimana orang ini mengerjakan shalat (dalam keadaan demikian) sedangkan dia sedang menghadap Rabb Semesta Alam?!&#8230;&#8221; (<em>Al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa`il Mushalliin </em>hal.20-21)</p>
<p><strong>Bagaimana Membangun Tempat Ibadah di Bekas Tempat-Tempat Kekafiran dan Kemaksiatan?</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, &#8220;Adapun tempat-tempat kekafiran dan kemaksiatan yang belum pernah terjadi padanya &#8216;adzab Allah, jika dijadikan sebagai tempat yang bernuansa keimanan dan ketaatan maka bagus (bukan termasuk tasyabbuh). Nabi telah memerintahkan penduduk Thaif agar membangun masjid di tempat sesembahan yang dahulu mereka punyai. Demikian pula penduduk Yamamah agar membangun masjid di tempat yang dahulu sebagai sinagog. Bahkan masjid beliau asalnya adalah kuburan orang-orang musyrikin (beliau bangun setelah dipindahkannya semua kuburan-kuburan tersebut ke tempat lain).&#8221; (<em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim</em> 1/266-267)</p>
<p><strong>Apakah Tasyabbuh Harus dengan Niat?</strong></p>
<p>Suatu amalan yang menyerupai ciri khas orang-orang kafir akan dihukumi sebagai tasyabbuh, walaupun tidak ada niatan untuk menyerupainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, &#8220;Demikian pula larangan tasyabbuh dengan mereka, mencakup perkara-perkara yang engkau niatkan untuk menyerupai mereka dan juga yang tidak engkau niatkan untuk menyerupai mereka.&#8221; (<em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim</em> 1/473, 1/219-220, 226-227 dan 272)</p>
<p><strong>Hikmah Menyelisihi Orang-Orang Kafir</strong></p>
<p>Menyelisihi orang-orang kafir mempunyai hikmah yang sangat besar bagi ummat Islam. Di antara hikmahnya adalah:</p>
<p>1. Menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang zhahir (penampilan dan akhlak) merupakan suatu maslahat bagi orang-orang yang beriman. Dengan itu akan tampak perbedaan penampilan yang dapat menjauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan para penghuni neraka tersebut.</p>
<p>2. Bahwasanya cara/jalan yang mereka miliki tidak keluar dari dua keadaan: merusak atau mempunyai kelemahan. Karena seluruh amalan yang mereka ada-adakan dalam agama dan juga yang masukh (terhapus dengan syari&#8217;at Islam) sifatnya merusak. Sedangkan amalan-amalan mereka yang tidak mansukh mempunyai banyak kelemahan, dan masih mengalami proses penambahan atau pengurangan dalam syari&#8217;at Islam.</p>
<p>3. Menyelisihi mereka merupakan sebab jayanya agama Islam.</p>
<p>4. Menyelisihi mereka termasuk tujuan utama diutusnya Rasulullah.</p>
<p>5. Dengan menyelisihi mereka akan terbedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir, dan tidak saling menyerupai satu dengan yang lainnya. (Diringkas dari <em>Iqtidhaa`ush Shiraathil Mustaqiim</em> 1/197, 198, 209 dan 365)</p>
<p>[Diambil dari Asy-Syariah No.11/I/1425H/2004 hal.5-8]</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Valentine Day?</strong></p>
<p>Valentine Day adalah hari bersejarah bagi orang-orang kafir (khususnya Nashara) dan merupakan salah satu ciri khas mereka yang selalu diperingati (dikenang dan diramaikan) pada setiap tanggal 14 Februari. Mereka menyebutnya sebagai hari kasih sayang dan cinta. Mereka saling memberikan bunga, tanda cinta dan sejenisnya kepada teman/kekasihnya.</p>
<p>Oleh karena valentine day merupakan salah satu kekhususan/ciri khas orang-orang kafir maka kita ummat Islam dilarang untuk ikut mengenang dan meramaikannya. Baik dengan memberikan bunga, hadiah, tanda cinta dan sejenisnya kepada seseorang.</p>
<p>Di samping itu, Islam telah melarang pacaran dan hal-hal yang mengarah ke sana seperti khalwat (berdua-duaan), ikhtilath dan sebagainya, yang perbuatan ini merupakan salah satu budaya dan kebiasaan orang-orang kafir.</p>
<p>Termasuk yang dilarang adalah ikut berjualan bunga, boneka, makanan, kueh atau coklat yang berbentuk hati dan sebagainya dalam rangka meramaikan hari tersebut. Demikian juga dilarang bagi kita untuk menampakkan kegembiraan pada hari tersebut.</p>
<p>Janganlah kita menjadi orang-orang yang ikut andil dan meramaikan hari-hari raya atau hari-hari kekhususan mereka.</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.&#8221;</em> (Al-Maa`idah:2)</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.&#8221;</em> (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar)</p>
<p>Semoga pembahasan tentang tasyabbuh ini menjadi secercah cahaya yang dengannya Allah menunjuki kita untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah dan para shahabatnya, dan menjauhkan kita dari jalan orang-orang kafir para penghuni neraka. <em>Aamiin. Wallaahu A&#8217;lam.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Buletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217;<br />
Edisi ke-14 Tahun ke-4 / 10 Februari 2006 M / 11 Muharrom 1427 H</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=40&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/tasyabbuh-bahaya-laten-di-tengah-ummat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Luqman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Artikel seputar hari non muslim (Natal, Tahun Baru)</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/artikel-seputar-hari-non-muslim-natal-tahun-baru/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/artikel-seputar-hari-non-muslim-natal-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2007 00:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Luqman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Situs Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/artikel-seputar-hari-non-muslim-natal-tahun-baru/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Artikel seputar hari non muslim (Natal, Tahun Baru) &#160; Hari Raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan dalam hadits: &#8220;Setiap kaum memiliki Hari Raya, ini adalah Hari Raya kita..&#8221; Hari Raya mereka mengekspresikan akidah mereka yang rusak, penuh syirik dan kekafiran. &#8220;Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=39&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><font size="3" color="blue"><strong>Artikel seputar hari non muslim (Natal, Tahun Baru)</strong></font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari Raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan dalam hadits: </p>
<p>&#8220;Setiap kaum memiliki Hari Raya, ini adalah Hari Raya kita..&#8221; </p>
<p>Hari Raya mereka mengekspresikan akidah mereka yang rusak, penuh syirik dan kekafiran. </p>
<p>&#8220;Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.&#8221; </p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dikatakan oleh Al-Albani -Rahimahullah&#8211; : &#8220;Hasan shahih.&#8221; (Shahih Abu Dawud II/761). </p>
<p><span id="more-39"></span><br />
Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus dari Abdullah bin Amru Radhiallahu &#8216;anhuma beliau pernah berkata: </p>
<p>&#8220;Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti.&#8221; (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I/723-724). </p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah&#8211; dalam Iqtidha Shirathil Mustaqim : </p>
<p>&#8220;Adapun apabila seorang muslimin menjual kepada mereka pada Hari-hari Raya mereka segala yang mereka gunakan pada Hari Raya tersebut, berupa makanan, pakaian, minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka itu termasuk menolong mereka mengadakan Hari Raya mereka yang diharamkan. Dasarnya satu kaidah: tidak boleh menjual anggur kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan untuk memerangi kaum muslimin.&#8221; Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah: &#8220;Sudah jelas bahwa kaum muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang menjadi kebutuhan Hari Raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau memberikan pertolongan untuk Hari Raya, karena yang demikian itu termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam kekufuran mereka.&#8221; (Al-Iqtidhaa 229-231). </p>
<p>Maka jelas kita bertasyabbuh, meridloi dan berpartisipasi dalam kegiatan mereka, apabila kita bersukaria, berpesta, memakan makanannya, berpartisipasi, dalam acara non muslim, hadiah-menghadiahi, memberi ucapan selamat, menjual kartu selamat, menjual segala keperluan Hari Raya mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan, kalkun, kue dan lain-lainnya. </p>
<p>Nah, dalam rangka menghindari akibat yang lebih jauh lagi, yakni murtad dari Islam &#8211; tanpa disadari &#8211; atau terjatuh dalam dosa-dosa besar, bid&#8217;ah yang mengkafirkan diri kita, marilah simak kumpulan artikel berikut ini :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=406">1. Tuntunan Ulama&#8217; Salaf dalam menyikapi hari raya non muslim</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=384">2. Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek/Ultah/Milad, red)</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=175">3. Bolehkah mengucapkan Selamat Hari Raya pada non Muslim ?</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=52">4. Hukum Memberikan Selamat Hari Raya atas Orang Non Muslim</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=831">5. Haram hukumnya berpartisipasi dalam hari Raya non Muslim</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=833">6. Ulama menyikapi hari raya non muslim (Natal/Tahun baru)</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=835">7. Hukum Islam dalam menyambut tahun/milenium baru (I)</a></p>
<p><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=836">8. Hukum Islam dalam menyambut tahun/milenium baru (II)</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barakallahu fiikum, semoga kumpulan artikel ini bermanfaat. Wallahul musta&#8217;aan.</p>
<p>Redaksi Salafy.or.id </p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=825</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=39&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/12/16/artikel-seputar-hari-non-muslim-natal-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Luqman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Menuntut Ilmu</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/23/adab-menuntut-ilmu/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/23/adab-menuntut-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 17:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/23/adab-menuntut-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[Muqoddimah Di dalam Muqoddimah kitab ini, Syaikh Hamad bin Ibrahim al-Utsman dengan panjang lebar menjelaskan tentang faedah-faedah dan keutamaan dalam menuntut `llmu serta perjalanan beliau dalam menyusun kitab ini, dari mulai cetakan pertama (1415 H) yang baru terkumpul 48 adab, cetakan ke dua (1416 H) dengan 60 adab, sampai pada cetakan ke empat ini dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=38&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="storycontent">Muqoddimah<br />
Di dalam Muqoddimah kitab ini, Syaikh Hamad bin Ibrahim al-Utsman dengan panjang lebar menjelaskan tentang faedah-faedah dan keutamaan dalam menuntut `llmu serta perjalanan beliau dalam menyusun kitab ini, dari mulai cetakan pertama (1415 H) yang baru terkumpul 48 adab, cetakan ke dua (1416 H) dengan 60 adab, sampai pada cetakan ke empat ini dengan 109 adab. Beliau juga mengatakan bahwa kitab-kitab yang membahas tentang Adab Menuntut Ilmu sebelum ini juga sudah ada, seperti kitab Jami’u Bayanil Ilmiy wa Fadlihi (karya imam Abdil Bar رحمه الله تعلى pada abad ke 4 dan ke 5 Hijriah)(1) walaupun masih terdapat keterbatasan. Disamping itu, beliau juga menyinggung sedikit tentang pentingnya penyandaran atau penisbahan yang ilmiyah dalam penyusunan suatu kitab (2)<span id="more-38"></span></p>
<p><a id="more-123"></a><br />
Namun karena keterbatasan ruang, tidak cukup seluruh isi muqoddimah beliau tersebut kita tampilkan pada tulisan ini, namun ada beberapa point yang penting untuk kita ketahui dan pahami. Beliau berkata: “Saya sebenarnya telah membukukan tentang faedah-faedah yang berhubungan dengan adab-adab dalam menuntut ilmu. Saya juga tambahkan apa-apa yang membuatnya bisa jadi lebih sempurna dan lebih tepat serta bermanfaat . Dan Allah Subhanahuwata’ala telah memudahkan saya untuk mengeluarkan kumpulan tersebut pada tahun 1415 H yaitu pada cetakan pertama. Saya berharap kepada Allah azzawajalla semoga pekerjaan tersebut menjadi amalan shaleh yang akan mengalir kepada saya sebagai balasan dari setiap orang yang membacanya atau yang mengambil manfaat darinya”</p>
<p>Dan pada cetakan yang keempat ini, disamping beliau menambah permasalahan baru dalam adab-adab menuntut ilmu, beliau juga menambahkan topik-topik dan bab-babnya, seperti akhwal para ‘ulama dalam masalah adab yaitu bagaimana etika duduk di dalam bermajelis, cara kita hadir di majelis `ilmu, penampilan dalam belajar, serta semangat kita dalam belajar tersebut. Disini dijelaskan juga oleh beliau mengenai adab baru yang tidak berhubungan dengan adab yang pertama tadi, sehingga jumlahnya menjadi 109 bentuk adab didalam menuntut ilmu tersebut.<br />
Tidak diragukan lagi bahwasanya dalil-dalil dalam menuntut ilmu dan keutamaannya sangat banyak, baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Dan memaparkan dalil-dalil tersebut sangat penting sekali untuk menambah atau memperkuat tekad kita didalam menuntut ilmu tersebut. Dalam menuntut ilmu, ada adab-adab yang perlu dipelajari. Berpegang teguh dengan adab-adab tersebut akan membentuk dan mengokohkan etika seorang penuntut ilmu, baik antara dia dengan syaikhnya (gurunya) maupun antara dia dengan teman-temannya. Ini berguna untuk mempermudahnya dalam menuntut ilmu tersebut serta akan membimbingnya untuk melihat mana ilmu yang lebih penting dari yang penting. Bahkan manfaat dari adab-adab itu tadi akan menunjukkan padanya jalan dan metode ‘ulama-‘ulama yang betul-betul kokoh (‘ulama kibar) dalam menuntut ilmu tersebut. Ini artinya dapat terlihat dari sana, bagaimana metode dan cara para ‘ulama Salaf (ulama terdahulu) yang telah mendahuluinya dalam menuntut ilmu tersebut.<br />
Dalam menuntut ilmu, seseorang bisa melakukannya dengan cara membaca kitab para ‘ulama dan yang terpenting adalah dengan cara mujalasah, yaitu duduk langsung dengan para ‘ulama tersebut. Hal ini tentu sangat membantu sekali dalam memahami pelajaran yang disampaikan dimana langsung bisa disaksikan bagaimana cara orang ‘alim atau ulama itu dalam mengajar, ketika men-syarah-kannya, ketika menjawab suatu pertanyaan(3) dan sebagainya.</p>
<p>Murid Imam Ahmad رحمه الله تعلى berkata: “Saya berteman dan bersahabat dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan saya pelajari darinya ilmu dan adab (4)</p>
<p>Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata(5) : “Apa-apa yang kami nukilkan (kami dapatkan) tentang adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى tersebut, lebih banyak daripada ilmu yang kami pelajari darinya.”<br />
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.<br />
Hajat para penuntut ilmu terhadap ‘adab menuntut ilmu’ sangat penting sekali sebelum dia mulai melangkah untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat masyur dan sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya mempelajari adab ini.<br />
Imam Malik رحمه الله تعلى pernah berkata kepada seorang pemuda dari kalangan masyarakat Quraisy (keturunan Qurasy); “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab tersebut sebelum kamu memulai belajar ilmu”(6) Adab menuntut ilmu merupakan hajat yang bersangatan (penting sekali).<br />
Berkata Yusuf bin al Husein(7) : “Dengan adab itu, ilmu tersebut dipahami.”<br />
Berkata Abu Abdillah al-Balhi : “Adab ilmu tersebut lebih banyak daripada ilmu itu sendiri ”(8).<br />
Juga berkata Imam Laits ibn sa’ad : “Ketika saya memperhatikan para penuntut ilmu hadits, lalu saya melihat pada mereka ada suatu kecacatan (suatu hal yang perlu dikritik dan dinasehati) lalu beliau berkata: “apa ini…? Kalian kepada adab sedikit dan kalian lebih berhajat kepada banyak ilmu”(9).<br />
Ini menunjukkan kepada kita bahwa sangat pentingnya adab tersebut didalam menuntut ilmu.<br />
Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Imam Abu Bakr al-Ajurri (رحمه الله تعلى 10, beliau berkata: “Seorang ‘alim harus memiliki sifat-sifat dan keadaan-keadaan yang berbagai macam serta kedudukan-kedudukan yang wajib dia gunakan. Hal demikian harus diamalkannya disetiap saat. Maka baginya harus mengetahui sifat bagaimana cara dia dalam menuntut ilmu tersebut. Dan ketika ilmu sudah banyak disisinya maka hendaklah dia lazimkan dirinya kepada yang diwajibkan tersebut. Dia harus menguasai dan mengetahui sifat bagaimana bermajelis dengan para ‘ulama, sifat ketika dia belajar dari para ‘ulama tadi. Selain itu dia juga harus mengerti tentang sifat bagaimana cara mengajar, termasuk dalam munazaroh didalam masalah ilmu.</p>
<p>Dalam berfatwa, seorang `alim tersebut juga harus memiliki sifat dan adab, termasuk bagaimana bermajelis dengan para pemimpin, yang kalau seandainya dia diuji dengan duduk bersama pemimpin, dia tahu siapa yang berhak bermajelis dengannya dan siapa yang tidak berhak. Dan yang terpenting adalah dia harus memiliki sifat bagaimana beribadah kepada Allah ‘azzawajalla (antara dia dengan Allah ‘azzawajalla ). Sesungguhnya seorang `alim itu harus telah mempersiapkan setiap hak yang melazimkannya untuk mendirikan dan menunaikan hak tersebut. Dia juga harus mempersiapkan diri dari kejadian-kejadian yang baru, terutama terhadap kejelekan-kejelekan yang berhubungan dengan masalah agamanya. Dia harus berilmu dan mengetahui tentang hal-hal yang bisa mendatangkan ketaatan kepadaNya. Juga dia harus berilmu dengan apa-apa yang bisa menolak bala’ tersebut. Sesungguhnya seorang `alim itu harus ber-i’tiqod, menganut dan beramal dangan akhlak-akhlak yang baik serta menjauhi akhlak-akhlak yang hina dan rendah didalam kehidupannya”.</p>
<p>Inilah butir-butir dari adab-adab yang akan membimbing kita kepada ilmu dan bagaimana menunaikan ilmu tersebut. Dan kadang-kadang mungkin saja luput dari saya selain dari apa yang akan saya sebutkan, dan Allah-lah yang menunjuki kepada jalan yang lurus. (bersambung…Insyaa Allah)</p>
<p>—–<br />
Footnote:<br />
1. sebuah kitab yang membahas tentang permasalahan Ilmu dan Keutamaan Ilmu.<br />
2. Maksudnya apabila seseorang mengambil nukilan topik atau pembahasan pada suatu kitab maka sepantasnyalah dia kembalikan sumbernya pada kitab tersebut, dengan menyebutkan nama kitab, jilid berapa dan siapa penulisnya. Jika perlu, lengkap dengan bab dan halamannya. Ini menunjukkan tentang ilmiyyahnya suatu kajian atau karya tulis. Hal ini bisa kita perhatikan pada karya-karya para salafunasholeh (orang-orang salaf terdahulu), mulai dari zaman tabi’in sampai saat ini, dimana dalam menukil suatu hadits sangat ilmiyah sekali. Mereka menukilkannya dari perkataan si fulan dan si fulan (bersanad) lengkap dengan derajat haditsnya. Namun bila kita lihat kitab-kitab sekarang yang ditulis oleh ustadz atau kyai-kyai yang mengikrarkan dirinya sebagai `ulama, mereka banyak mengarang kitab namun tidak ilmiyah, tanpa dalil yang jelas sumbernya., seperti tanpa menyebutkan sumber referensi judul kitab, jilidnya, bab dan halamannya.<br />
3 Bila seorang murid bertanya kepada seorang guru atau `ulama, dimana guru tersebut belum tahu jawabannya, tidak salah bila guru tersebut minta uzur atau menunda untuk menjawabanya. Dan bila sang guru tsb memang benar-benar tidak tahu jawabannya, maka terlarang baginya untuk memaksakan diri menjawabnya tanpa dalil yang jelas atau mencari-cari jawaban sekenanya agar dia tidak merasa malu, karena bukan ‘aib bagi seorang guru untuk mengatakan “tidak tahu” kalau dia benar-benar memang tidak tahu atau menjawabnya dengan mengatakan Allahu a’lam (الله أعلم بالصواب ).</p>
<p>4 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb<br />
5 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari<br />
adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb.<br />
6 Di dalam Siyar alamin-nubala’, Jilid 8 halaman 113.<br />
7 Di dalam al-Hilyah oleh Abi Nu’aim<br />
8 Kitab Iqtidho’ al-Ilmiy wal ‘amali oleh Khatib al Baghdadiy, (hal. 170)<br />
9 Di dalam kitab al-adabul syar’iyyah (Jilid 3, Halaman 552).<br />
10 Di dalam Syarfu Ashabil Hadits oleh al-Khatib al-Baghdadiy (No. 283).</p>
<p><a href="http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=123">http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=123</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=38&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/23/adab-menuntut-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM SHOLAT ‘IEDAIN</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-%e2%80%98iedain/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-%e2%80%98iedain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 14:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-%e2%80%98iedain/</guid>
		<description><![CDATA[HUKUM SHOLAT ‘IEDAIN Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah Al-Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah, KSA Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin ditanya:”Apa hukum sholat ‘Ied?” &#160; Jawab: Yang saya fahami bahwa sholat ‘Ied adalah fardlu ‘ain, sehingga tidak boleh bagi kaum laki-laki untuk meninggalkannya. Mereka harus menggadirinya, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=37&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal" align="center"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:17pt;color:green;font-family:Elephant;">HUKUM SHOLAT ‘IEDAIN</span></strong></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal" align="center"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Oleh:</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal" align="center"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin</span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';" dir="rtl"><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span> </span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">rahimahullah</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal" align="center"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Al-Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah, KSA</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal" align="center"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';" dir="rtl"><br />
</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin ditanya:”Apa hukum sholat ‘Ied?”</span></font><span id="more-37"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">Jawab</span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">: Yang saya fahami bahwa sholat ‘Ied adalah <em>fardlu ‘ain</em>, sehingga tidak boleh bagi kaum laki-laki untuk meninggalkannya. Mereka harus menggadirinya, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, bahkan beliau juga memerintahkan para gadis pingitan untuk ikut keluar menuju sholat ‘ied. Bahkan beliau juga memerintahkan orang yang haid untuk datang juga meskipun mereka harus menjauh dari tempat sholat. Hal ini menunjukkan akan pentingnya perkara tersebut. Pendapat yang saya sebutkan inilah yang <em>rajih</em> dan diambil oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Tetapi sebagaimana sholat Jum’at jika tidak mengerjakannya, seseorang tidak perlu mengqodlonya, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan kewajibannya. Ia tidak harus melakukan sholat apapun sebagai penggantinya, karena sholat jum’at jika ketinggalan mengerjakannya maka penggantinya adalah sholat Dzuhur, karena ia adalah waktu Dzuhur. Adapun jika ketinggalan sholat ‘ied maka ia tidak usah mengqadlo.</span><span></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Nasehat saya untuk saudaraku kaum muslimin hendaknya bertaqwa kepada Allah, melaksanakan sholat ini yang bersisi kebaikan dan do’a, bertemunya manusia satu dengan yang lain, serta menumpahkan rasa kasih saying dan cinta. Sekiranya manusia diundang untuk menghadiri permainan tentu Anda akan melihat mereka bersegera mendatanginya, lalu bagaimana jika yang memanggil (mengundang) mereka adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan sholat ini yang dengannya mereka mendapat pahala Allah Azza wa Jalla sesuai dengan janji-Nya kepada mereka?</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Yang perlu diperhatikan bagi wanita yang pergi menuju sholat ‘ied, mereka harus menjauhi tempat laki-laki, mereka berada dibagian belakang tempat sholat yang jauh dari laki-laki, dan jangan keluar dalam keadaan/kodisi berhias ataupun bertabarruj, hal ini sebagaimana terjadi pada jaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau memerintahkan kaum wanita untuk ikut keluar menuju tempat sholat, ada yang berkata:<em>’Ya Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’.</em> Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:<em>”Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbab kepadanya”</em></span><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">1)</span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Jilbab adalah baju panjang atau pakaian yang sejenis mantel. Hal ini menunjukkan kewajiban wanita untuk memakai jilbab jika keluar, karena ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang wanita yang tidak mempunyai jilbab beliau tidak mengatakan hendaklah ia keluar dengan pakaian semampunya, tetapi beliau mengatakan:<em>”Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbab kepadanya”</em>. </span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Dan bagi imam sholat ‘ied, jika berkhutbah di depan kaum laki-laki hendaknya juga mengkhususkan khutbah di depan kaum wanita jika mereka tidak mendengar khutbah di depan kaum laki-laki. Tetapi jika mereka bias mendengarkannya, maka hal itu sudah cukup. Hanya yang lebih utama dalam akhir khutbah menyinggung khusus hukum-hukum wanita sebagai nasehat dan untuk mengingatkan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah pada kaum laki-laki lalu beliau berjalan menuju kaum wanita lalu menasehati dan mengingatkan mereka.</span><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">2)</span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"><em>Soal ke-3 dari fatwa no. 9555</em></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">Soal</span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">: Sholat ‘iedul Fithri dan Adha apakah wajib atau Sunnah, dan apakah hukuman bagi orang yang meninggalkannya?</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Jawab: Sholat ‘iedul Fithri dan Adhah adalah <em>Fardlu kifayah</em>, sebagain ahli ilmi berpendapat bahwa hukum sholat ‘iedul fithri dan Adhah adalah <em>Fardlu ‘Ain</em> seperti sholat Jum’at; maka tidaklah semestinya bagi seorang muslim untuk meninggalkannya.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Wabillahi Taufiq, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Al-Lajnah Daimah Lilbuhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Anggota: Abdullah bin Gudyan</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Wakil Ketua: Abdur Rozaq ‘Afifi</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Ketua: Abdul Aziz bin Baaz</span></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">السؤال الثالث من الفتوى رقم (9555)</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">س3: صلاة العيدين الفطر والأضحى هل هي واجبة أم سنة، وما هي الذنوب على الذي يتركها؟</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">ج3: صلاة العيدين: الفطر والأضحى، كل منهما فرض كفاية، وقال بعض أهل العلم: أنهما فرض عين كالجمعة؛ فلا ينبغي للمؤمن تركها.</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز</span></strong><span style="font-size:16pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"><em>Soal ke-2 dari fatwa no. 6505</em></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">Soal</span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">: Apakah sholat ‘ied wajib bagi wanita; apabila ia wajib apakah yang terbaik ia lakukan, apakah dilakukan di rumah atau di lapangan?</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Jawab: Sholat ‘ied tidaklah wajib bagi wanita akan tetapi ia adalah sunnah; dan hal yang terbaik yang mesti ia lakukan adalah ia melakukannya di lapangan bersama kaum muslimin dikarenakan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan </span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">kepada kaum wanita </span><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">yang demikian.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Wabillahi Taufiq, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Al-Lajnah Daimah Lilbuhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Anggota: Abdullah bin Qu’ud</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Anggota: Abdullah bin Gudyan</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Wakil Ketua: Abdur Rozaq ‘Afifi</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">Ketua: Abdul Aziz bin Baaz</span></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"> </span><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">السؤال الثاني من الفتوى رقم (6505)</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">س2: هل صلاة العيد واجبة على المرأة، وإن كانت واجبة فهل تصليها في المنزل أو في المصلى؟</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">ج2: ليست واجبة على المرأة ولكنها سنة في حقها، وتصليها في المصلى مع المسلمين؛ لأن النبي </span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">صلى الله عليه و سلم</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';"> أمرهن بذلك.</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="text-indent:0;text-align:justify;" dir="rtl" class="MsoNormal"><font color="#000000"><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:'Traditional Arabic';">عبدالله بن قعود، عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;color:blue;font-family:times-roman;" dir="ltr"></span></strong></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"></span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:red;font-family:Elephant;">Catatan Kaki:</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">1)HR.Bukhori 324; Muslim 890.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;">2) Fatawa Arkanil Islam, soal no. 330.</span></font></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><font color="#000000"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:Elephant;"><a href="http://abdurrahman.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-iedain/">http://abdurrahman.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-iedain/</a></span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=37&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/05/hukum-sholat-%e2%80%98iedain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berhari Raya Bersama Muslimin dan Pemerintah</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/02/berhari-raya-bersama-muslimin-dan-pemerintah/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/02/berhari-raya-bersama-muslimin-dan-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 02:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Luqman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/02/berhari-raya-bersama-muslimin-dan-pemerintah/</guid>
		<description><![CDATA[Hukum asal penentuan awal bulan Syawwal (Hari Raya &#8216;Iedlul Fithri) adalah dengan ru&#8217;yatul hilal (melihat bulan sabit) berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=36&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum asal penentuan awal bulan Syawwal (Hari Raya &#8216;Iedlul Fithri) adalah dengan ru&#8217;yatul hilal (melihat bulan sabit) berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:</p>
<p>لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنهما)</p>
<p>Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian ber-iedlul Fithri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka kalian perkirakanlah. (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما)</p>
<p>&#8220;Memperkirakan&#8221; ketika hilal terhalang oleh awan atau lainnya adalah dengan menggenapkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain sebagai berikut:</p>
<p>صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه)</p>
<p>Berpuasalah kalian jika kalian melihatnya (hilal) dan ber&#8217;iedlul Fithrilah kalian jika kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya&#8217;ban tiga puluh hari. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)</p>
<p>Maka jika yang terhalang adalah hilal Syawwal, genapkanlah bulan Ramadlan 30 hari.</p>
<p><strong>Penentuan Ramadlan, Syawwal, Haji dan lain-lain adalah tanggung jawab penguasa</strong></p>
<p>Hari Raya adalah suatu amalan yang bersifat jama&#8217;i (dilakukan secara berjama&#8217;ah), maka penguasalah yang berkewajiban untuk ru&#8217;yatul hilal atau orang-orang khusus yang mereka tugaskan, atau merekalah yang menerima berita-berita dari orang yang melihat hilal dan menentukan sah atau tidak sahnya. Oleh karena itu kita tidak bisa melaksanakan hari raya sendiri-sendiri dengan melihat hilal sendiri-sendiri. <span id="more-36"></span></p>
<p>Kewajiban rakyat -kaum muslimin &#8211; adalah mentaati penguasanya pada hasil keputusan mereka, hingga terjadilah kebersamaan yang dikehendaki oleh syariat Islam. </p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله dalam Tamamul Minnah: &#8220;Sesungguhnya untuk melihat hilal atau mencari berita tentang hilal dari negeri-negeri lain pada hari ini adalah perkara yang mudah, sebagaimana sudah dimaklumi. Namun yang demikian perlu perhatian serius dari para penguasa negara-negara Islam hingga (persatuan) akan terwujud menjadi kenyataan insya Allah tabaraka wa ta&#8217;ala&#8221;. (Tamamul Minnah, hal. 398)</p>
<p><strong>Perintah untuk mentaati penguasa tersebut adalah terus berlangsung walaupun penguasa tersebut dhalim atau fasik.</strong></p>
<p>Berkata Imam ash-Shabuni رحمه الله dalam Aqidatus Salaf hal. 102: &#8220;Ahlul hadits berpendapat untuk menegakkan shalat Jum&#8217;at dan dua hari raya dan lain-lain dari shalat-shalat jama&#8217;ah di belakang setiap penguasa muslim yang baik atau pun yang jahat. Dan berpendapat untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bersama mereka, walaupun penguasa tersebut dhalim dan jahat&#8221;.</p>
<p>Berkata Imam al-Barbahari رحمه الله: &#8220;Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidak mengurangi kewajiban yang Allah wajibkan melalui lisan nabi-Nya صلى الله عليه وسلم. Kejahatannya untuk diri mereka sendiri, sedangkan ketaatan dan kebaikanmu bersamanya tetap sempurna -Insya Allah. Yakni kebaikan berupa shalat jama&#8217;ah, Jum&#8217;at dan jihad bersama mereka dan segala sesuatu dari ketaatan yang dikerjakan bersama mereka, maka pahalamu sesuai dengan niatmu&#8221;. (Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 116)</p>
<p>Berkata Abu Ja&#8217;far ath-Thahawi رحمه الله: &#8220;Haji dan jihad terus berlangsung bersama penguasa kaum muslimin, yang baik atau yang jahat, sampai hari kiamat; tidak terbatalkan dan tidak gugur (dengan kefasikan mereka). (Al-Aqidah ath-Thahawiyah, dengan syarh Ibnu Abil &#8216;Izz, hal. 287) </p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: &#8220;Dan mereka (ahlus sunnah wal jama&#8217;ah) memerintahkan kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syari&#8217;at. Mereka berpendapat untuk menegakkan haji, shalat jum&#8217;at, dan hari raya bersama para penguasa, apakah mereka orang-orang baik ataukah orang-orang jelek. Dan berpendapat untuk menegakkan shalat jama&#8217;ah, jihad dan menegakkan nasehat untuk umat&#8221;. (Aqidah Wasithiyah, Ibnu Taimiyah, hal. 257)</p>
<p>Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: &#8220;Yang demikian karena tujuan kaum muslimin adalah menyatukan kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena penguasa yang fasik tidak lepas dari kedudukannya sebagai penguasa yang harus ditaati dan tidak boleh ditentang, apalagi jika sampai berakibat menelantarkan kewajiban-kewajiban dan menumpahkan darah&#8221;. (Syarh Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Shalih Fauzan, hal. 216)</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: &#8220;Mereka (ahlus sunnah wal jama&#8217;ah) berpendapat untuk menegakkan haji bersama para penguasa walaupun mereka fasik. Bahkan walaupun merekaeminum khamr ketika haji. Mereka tidak berkata: &#8220;Ini adalah imam faajir, kami tidak mau terima kepemimpinannya&#8221;. Karena mereka berpendapat bahwa mentaati penguasa adalah wajib walaupun mereka fasik, selama kefasikannya tidak membawa pada kekafiran yang jelas yang di sisi Allah kita punya bukti…&#8221;. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 337)</p>
<p>Beliau berkata pula: &#8220;Demikian pula menegakkan hari raya-hari raya bersama para penguasa yang mengimami shalat mereka. Apakah ia orang baik ataukah orang jelek. Dengan jalan yang damai ini, jelaslah bahwa agama Islam ini merupakan jalan tengah di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang-orang yang melalaikan&#8221;. (sumber yang sama hal. 336) </p>
<p>Berkata Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi رحمه الله: &#8220;Telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta ijma&#8217; para salaful ummah bahwa para penguasa, pemimpin shalat, hakim, panglima perang dan pengurus zakat ditaati dalam perkara-perkara ijtihad. Dan tidaklah mereka mentaati anak buahnya dalam perkara ijtihad, tetapi rakyatlah yang harus mentaatinya dalam masalah-masalah tersebut. Dan hendaklah mereka menyerahkan pendapatnya kepada penguasa tersebut, karena kepentingan umum dan persatuan serta bahayanya perpecahan dan pertikaian adalah lebih diperhatikan daripada masalah-masalah pribadi atau kelompok.&#8221; (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 376)</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله: &#8220;Jika ada yang bertanya: &#8220;Mengapa kita mesti shalat di belakang mereka dan mengikuti mereka dalam haji, jihad, Jum&#8217;at dan hari raya?&#8221; Kita katakan bahwa mereka adalah penguasa kita yang kita beragama dengan mentaati mereka, karena perintah Allah سبحانه وتعالى:</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ&#8230; (النساء: 59)</p>
<p>Artinya : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah </p>
<p>Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian…&#8221; (an-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:</p>
<p>إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ . (رواه مسلم)</p>
<p>Sesungguhnya akan terjadi setelahku kedhaliman-kedhaliman dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Mereka bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada orang yang mengalami masa tersebut dari kami?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Tunaikanlah hak-hak mereka atas kalian, dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian. (HR. Muslim) </p>
<p>Yang dimaksud &#8220;hak-hak mereka (para penguasa)&#8221; adalah <u>ketaatan kepada mereka pada selain kemaksiatan.</u> (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 339)</p>
<p>Dengan kita mengikuti ucapan-ucapan para ulama di atas, niscaya akan terwujud kebersamaan yang disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits yang sudah kita sebutkan pada edisi ke-80, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</p>
<p>الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ. (رواه الترمذي وقال: حديث غريب حسن )</p>
<p>Puasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Iedlul Fithri adalah hari di mana seluruh kalian berbuka (yakni tidak berpuasa lagi –pent.) dan Iedlul Adha adalah hari ketika kalian seluruhnya menyembelih kurban. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)</p>
<p><strong>Adapun cara para penguasa menentukan hari raya tersebut, apakah dengan ru&#8217;yah atau dengan hisab, maka merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah سبحانه وتعالى. </strong></p>
<p>Hadits di atas di samping merupakan dalil untuk berpuasa bersama kaum muslimin, juga merupakan dalil berhari raya bersama mereka.</p>
<p>Berkata ash-Shan&#8217;ani dalam Subulus Salam 2/72: &#8220;Pada hadits ini ada dalil bahwa yang teranggap dalam menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal (bulan sabit) tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber&#8217;iedlul Fithri atau pun berkurban&#8221;. </p>
<p>Disamping itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah رضي الله عنها dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata: Menyampaikan kepadaku Ali bin Aqmar, dari Masruq, bahwa ia mendatangi rumah Aisyah pada hari Arafah (dalam keadaan tidak berpuasa –pent.). Aisyah رضي الله عنها berkata: &#8220;Berilah Masruq minuman dan perbanyaklah halwa untuknya!&#8221; Masruq berkata: &#8220;Tidaklah menghalangiku untuk berpuasa pada hari ini, kecuali aku khawatir hari ini adalah hari raya nahr (iedlul Adha). Maka Aisyah pun berkata: </p>
<p>النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ. (رواه البيهقي)</p>
<p>Hari raya Nahr adalah hari manusia menyembelih, dan iedlul Fithri adalah hari ketika manusia berbuka (yakni tidak lagi berpuasa). </p>
<p>(Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbani, hal. 442)</p>
<p>Disebutkan pula ucapan senada oleh Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Tahdzibu as-Sunan, 3/214: &#8220;Dikatakan bahwa pada hadits ini terdapat bantahan atas orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang melihat munculnya bulan Sabit dengan mengukur hisabnya atau menghitung tempat-tempat terbitnya, boleh baginya berpuasa dan beriedlul Fithri sendiri, tidak seperti orang yang tidak mengetahuinya&#8221;. Dikatakan bahwa seorang yang melihat munculnya bulan sabit sendirian, tetapi hakim tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berpuasa sebagaimana manusia pun belum berpuasa&#8221;. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)</p>
<p><strong>Demikian pula tentunya siapa yang melihat hilal Syawwal sendirian, namun penguasa tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berhari raya sendirian.</strong></p>
<p>Berkata Abul Hasan as-Sindi dalam catatan kakinya terhadap Sunan Ibnu Majah, setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah dalam riwayat di atas sebagai berikut: &#8220;Tampaknya makna hadits ini adalah bahwa perkara-perkara tersebut bukan haknya pribadi-pribadi seseorang tertentu. Dan tidak boleh seseorang menyendiri dalam masalah tersebut, tetapi urusan ini dikembalikan kepada imam dan jama&#8217;ah kaum muslimin seluruhnya. Wajib bagi setiap pribadi mengikuti kebanyakan manusia dan penguasanya. Dengan demikian jika seseorang melihat hilal, tetapi penguasa menolaknya, maka semestinya dia tidak tidak menetapkan perkara-perkara tadi pada dirinya sendirian, sebaliknya wajib baginya mengikuti kebanyakan manusia&#8221;. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)</p>
<p>Maka nasehat kita kepada para penguasa adalah: tentukanlah awal bulan Ramadlan, Syawwal dan lain-lain dengan ru&#8217;yatul hilal di mana pun hilal itu terlihat, walaupun di negara-negara lain. </p>
<p><strong>Dan nasehat kita kepada kaum muslimin adalah: taatilah penguasa; berpuasa dan ber&#8217;iedhul Fithrilah bersama mereka, dan janganlah berpecah-belah.</strong></p>
<p>[Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab &amp; Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Arief Subekti HP 081564690956. Untuk memperdalam ilmu dan informasi dakwah baca: majalah Asy-Syari'ah &amp; An-Nasihah atau klik www.asysyariah.com dan www.salafy.or.id.]</p>
<p>(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 84/Th. II, tanggal 24 Ramadlan 1426 H/28 Oktober 2005 M, judul asli Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin dan Penguasanya, penulis asli Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed) </p>
<p align="center"><a target="_blank" href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1021">http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1021</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=36&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/02/berhari-raya-bersama-muslimin-dan-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Luqman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR JENAZAH DAN DUA SHALAT ‘IED (IEDUL FITHRI DAN IEDUL ADHA)</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/01/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir-takbir-jenazah-dan-dua-shalat-%e2%80%98ied-iedul-fithri-dan-iedul-adha/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/01/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir-takbir-jenazah-dan-dua-shalat-%e2%80%98ied-iedul-fithri-dan-iedul-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2007 12:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/01/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir-takbir-jenazah-dan-dua-shalat-%e2%80%98ied-iedul-fithri-dan-iedul-adha/</guid>
		<description><![CDATA[A. Mengangkat Kedua Tangan pada Takbir-Takbir Shalat Jenazah Para ulama sepakat bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah.(1) Dan yang terjadi perselisihan di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur: Pendapat pertama: mengatakan bahwa tidak disyariatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=35&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Mengangkat Kedua Tangan pada Takbir-Takbir Shalat Jenazah<br />
Para ulama sepakat bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah.(1)<br />
Dan yang terjadi perselisihan di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur:<span id="more-35"></span></p>
<p>Pendapat pertama: mengatakan bahwa tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani. Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang pendapat beliau.(2)<br />
Pendapat kedua: mengatakan bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin Umar, Umar bin Abdil Aziz, Atha’, Yahya bin Sa’id, Qais bin Abi Hazim, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallahu alaihi wasallam.(3)</p>
<p>Hujjah (alasan) pendapat pertama:<br />
Adapun hujjah pendapat pertama adalah beberapa dalil:<br />
1- Hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:</p>
<p>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي أَوَّلِ تَكْبِيرَةٍ وَوَضَعَ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى<br />
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat jenazah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya pada awal takbir, dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.&#8221;(4)<br />
2- Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhu:</p>
<p>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِى أَوَّلِ تَكْبِيرَةٍ ثُمَّ لاَ يَعُودُ<br />
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya pada shalat jenazah pada takbir pertama, kemudian beliau tidak mengulanginya.&#8221;(5)<br />
3- Mereka juga mengatakan: setiap takbir sama kedudukannya seperti raka’at, dan sebagaimana tidak dianjurkan mengangkat kedua tangan pada seluruh raka’at, maka demikian pula tidak dianjurkan mengangkat tangan pada setiap takbir.(6)</p>
<p>Hujjah (alasan) pendapat kedua<br />
Adapun hujjah pendapat kedua adalah beberapa dalil:<br />
1- Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu:</p>
<p>أن النبي كان إذا صلى على الجنازة رفع يديه في كل تكبيرة وإذا انصرف سلم<br />
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika menshalati jenazah, beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir, dan jika selesai beliau mengucapkan salam&#8221;.(7)<br />
2- Beberapa atsar dari shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya:<br />
 Atsar (riwayat) Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir dari takbir shalat jenazah, dan jika berdiri di antara dua raka’at dalam shalat wajib.(8)<br />
 Atsar (riwayat) Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa beliau mengangkat kedua tangannya setiap kali bertakbir pada shalat jenazah.(9)<br />
 Atsar (riwayat) dari Umar radhiallahu anhu bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir dalam shalat jenazah dan shalat ‘ied.(10)<br />
 Atsar (riwayat) dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada takbir-takbir shalat jenazah.(11)<br />
3- Mengqiyas shalat jenazah dengan shalat yang lainnya, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengangkat kedua tangannya di saat beliau berdiri dalam shalat.(12)</p>
<p>Tarjih (penguatan pendapat) antara dua madzhab<br />
Dalam menguatkan salah satu dari dua pendapat di atas, kita harus melihat kekuatan masing-masing dalil yang dijadikan hujjah bagi masing-masing pihak, yang dengan itu kita akan memberikan kesimpulan tentang pendapat manakah yang paling rajih (kuat).<br />
Kedudukan hujjah pendapat pertama<br />
- Adapun hadits Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat jenazah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya pada awal takbir, dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.<br />
Ini adalah hadits yang sangat lemah, sebab hadits ini berasal dari jalan Yahya bin Ya’la dari Yazid bin Sinan dari Zaid bin Abi Unaisah dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Musayyab dari Abu Hurairah secara marfu’. Dan dalam sanad hadits ini terdapat kelemahan dari dua sisi:</p>
<p>Pertama: perawi yang bernama Yahya bin Ya’la Al-Aslami Al-Qathawani, Abu Zakaria Al-Kufi, beliau adalah seorang perawi yang lemah. Imam Bukhari berkata tentangnya: goncang haditsnya. Dan juga dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar.</p>
<p>Kedua: perawi yang bernama Yazid bin Sinan Al-Jazari, Abu Farwah Ar-Rahawi, juga perawi yang lemah, bahkan Imam An-Nasaai mengatakan tentangnya: lemah, ditinggalkan haditsnya. Dan juga dilemahkan oleh Imam Ahmad,dan Yahya bin Ma’in. Ibnu Hibban berkata: dia banyak salah, aku tidak senang berhujjah dengannya jika ia meriwayatkan hadits yang sesuai dengan riwayat para perawi yang tsiqah (terpercaya), maka apalagi jika ia menyendiri dalam periwayatan. Maka dengan ini sebab kelemahan ini menyebabkan riwayat ini sangat lemah.</p>
<p>Oleh karena itu, At-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits ini: ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. Demikian pula Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Mizanul I’tidal (4/415): di antara hadits-hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Yahya bin Ya’la adalah hadits ini. Ad-Daruquthni juga berkata bahwa hadits ini tidak tsabit. Hadits ini juga dilemahkan oleh Ibnul Mulaqqin dan Al-Hafidz Ibnu Hajar.(13)</p>
<p>- Adapun hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya pada shalat jenazah pada takbir pertama, kemudian beliau tidak mengulanginya.</p>
<p>Hadits ini berasal dari jalan Al-Fadhl bin As-Sakan dari Hisyam bin Yusuf dari Ma’mar dari Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas, secara marfu’. Dan hadits ini juga termasuk hadits yang lemah, Al-Fadhl bin As-Sakan adalah perawi yang lemah, dilemahkan oleh Ad-Daruquthni. Al-Uqaili mengatakan: dia tidak teliti dalam haditsnya, di samping itu pula dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal). Hadits ini juga dilemahkan oleh Ibnul Mulaqqin dan Al-Hafidz .(14)<br />
Maka kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tidak ada satu pun hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa mengangkat tangan hanya dilakukan pada takbir pertama. Berkata Al-Hafidz setelah menyebutkan kelemahan dua riwayat tesebut di atas:</p>
<p>ولا يصح فيه شيئ</p>
<p>“dan tidak ada satu pun yang shahih dalam hal ini.”(15)</p>
<p>Adapun alasan bahwa takbir sama kedudukannya dengan raka’at yang memiliki ruku’ dan sujud, ini pun qiyas yang tidak benar sebab jika takbir pada shalat jenazah sama kedudukannya seperti raka’at, maka tentu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang mengerjakan shalat jenazah di pekuburan, sebagaimana beliau melarang mengerjakan shalat-shalat yang memiliki raka’at di pekuburan.<br />
Kedudukan hujjah pendapat kedua</p>
<p>- Adapun hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika menshalati jenazah, beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir, dan jika selesai beliau mengucapkan salam.</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang diperselisihkan apakah dia mauquf (dari perbuatan Ibnu Umar), atau marfu’ (dari perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Adapun dari jalan Umar bin Syabbah, beliau meriwayatkan dari Yazid bin Harun dari Yahya bin Sa’id dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’. Sedangkan yang lain meriwayatkan dari Yazid secara mauquf. Ad-Daruquthni berkata: yang benar adalah riwayat mauquf.(16)</p>
<p>- Sedangkan atsar yang datang dari Ibnu Umar radhiallahu anhu adalah atsar yang shahih, demikian pula yang datang dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, telah dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Dari pemaparan dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh masing-masing pendapat, tampak bagi kita sekalian bahwa riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama tidak satu pun yang shahih, namun berada di antara lemah dan sangat lemah sekali. Sementara riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, telah shahih datang dari beberapa shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dalam hal ini,sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.</p>
<p>Faedah:<br />
Telah ditanya samahatusy syekh Bin Baaz rahimahullah tentang mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah bersaman dengan takbir-takbir, apakah termasuk sunnah?</p>
<p>Maka beliau menjawab:</p>
<p>السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدارقطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد.<br />
(مجموع فتاوى ابن باز:13؟148)<br />
Beliau menjawab: yang sunnah adalah mengangkat kedua tangan bersamaan dengan empat takbir seluruhnya, berdasarkan (riwayat) yang shahih dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, bahwa keduanya mengangkat (kedua tangannya) bersama dengan seluruh takbir. Diriwayatkan (oleh) Ad-Daruquthni secara marfu’ dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang bagus.(17)<br />
Ini juga menjadi jawaban dari Lajnah da’imah, dalam fatwanya dinyatakan:</p>
<p>تجوز صلاة الجنازة بدون رفع اليدين؛ لأن الواجب فيها التكبيرات وقراءة الفاتحة والدعاء للميت والسلام، ولكن رفع اليدين هو السنة في جميع التكبيرات.وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس<br />
عبدالله بن قعود، عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز<br />
(فتاوى اللجنة:2514)<br />
“Boleh shalat jenazah tanpa mengangkat kedua tangan, sebab yang wajib padanya adalah bertakbir dengan beberapa kali takbir, membaca al-fatihah, berdoa untuk si mayyit, dan mengucapkan salam, namun mengangkat kedua tangan adalah hal yang sunnah pada seluruh takbir. dan taufiq hanya milik Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, para pengikutnya, dan para shahabat.”</p>
<p>Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz<br />
Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi<br />
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan<br />
Anggota: Abdullah bin Qu’ud.(18)</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: apakah termasuk dari sunnah mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat jenazah?</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>نعم من السنة,أن يرفع الإنسان يديه عند كل تكبيرة في صلاة الجنازة كما صح ذلك عن عبد الله بن عمر ولأن رفع اليدين في صلاة الجنازة بمنزلة الركوع والسجود في الصلوات الأخرى ,الصلوات الأخرى تشتمل على فعل وقول ,صلاة الجنازة أيضا تشتمل على فعل وقول ,فكونك ترفع في الأولى وتسكت معناه لم تميز في الذكر بين التكبيرة الأولى والتكبيرة الثانية,ولذلك قد دل الأثر والنظر على أن صلاة الجنازة ترفع فيها الأيدي عند كل تكبيرة</p>
<p>“Iya,termasuk dari sunnah seseorang mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah, sebagaimana yang telah shahih hal itu dari Abdullah bin Umar. Dan karena mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah kedudukannya seperti ruku’ dan sujud pada shalat-shalat yang lain, shalat-shalat yang lain mencakup perbuatan dan perkataan, shalat jenazah juga mencakup perbuatan dan perkataan. Maka ketika engkau mengangkat pada takbir pertama lalu engkau diam, maka maknanya engkau tidak memisahkan dalam dzikir antara takbir pertama dengan takbir kedua. Oleh karenanya, telah ditunjukkan oleh atsar maupun pandangan bahwa shalat jenazah diangkat kedua tangan pada setiap kali takbir.”(19)</p>
<p>B. Mengangkat Tangan pada Takbir-Takbir Tambahan pada Dua Shalat ‘Ied<br />
Ini masalah kedua, yaitu masalah hukum mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir tambahan dalam dua shalat ‘ied, apakah ini termasuk perkara yang disyari’atkan? Dalam hal ini, juga terjadi perselisihan di kalangan para ulama menjadi dua pendapat:<br />
pertama: mengatakan bahwa tidak diangkat kedua tangan pada takbir-takbir tersebut kecuali pada takbiratul ihram. Ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, dan Abu Yusuf.<br />
Kedua: mengatakan dianjurkannya mengangkat kedua tangan pada setiap takbir shalat ‘ied. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, Al-Laits bin Sa’ad, Abu Hanifah, dan muridnya Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Atha’, Al-auza’i, Dawud, dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin.(20)</p>
<p>Pendapat yang kuat dalam masalah ini</p>
<p>Yang rajih di antara dua pendapat ini adalah pendapat kedua yang mengatakan dianjurkannya mengangkat kedua tangan pada setiap takbir-takbir tambahan, berdasarkan dalil-dalil berikut:</p>
<p>- Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu berkata:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ وَهُمَا كَذَلِكَ فَيَرْكَعُ ثُمَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْفَعَ صُلْبَهُ رَفَعَهُمَا حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي السُّجُودِ وَيَرْفَعُهُمَا فِي كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ حَتَّى تَنْقَضِيَ صَلَاتُهُ</p>
<p>“Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu bertakbir dan kedua (tangannya) dalam keadaan demikian, lalu ruku’. Kemudian, jika beliau hendak mengangkat punggungnya, beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu berkata: sami’allaahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memberi pujian kepada-Nya), dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu hendak sujud. Dan beliau mengangkat keduanya pada setiap kali takbir yang beliau bertakbir dengannya sebelum ruku’ hingga shalatnya selesai.”(21)</p>
<p>Perkataan beliau “sebelum ruku’” menunjukkan keumuman takbir sebelum ruku’, termasuk di antaranya takbir-takbir tambahan pada shalat ‘ied. Oleh karena itu, hadits ini disebutkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra dalam bab: “mengangkat kedua tangan pada takbir shalat ‘ied”.</p>
<p>- Hadits Waa’il bin Hujr radhiallahu anhu bahwa beliau berkata:</p>
<p>رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيرِ</p>
<p>“Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.”(22)</p>
<p>Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata ketika mengomentari hadits ini: “Aku memandang semuanya termasuk dalam hadits ini.”(23)</p>
<p> Faedah<br />
Ibnu Juraij berkata: aku bertanya kepada Atha’: apakah seorang imam mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir tambahan dalam shalat ‘iedul fithri? Beliau menjawab: “Iya, dan manusia (para makmum) juga mengangkatnya.”(24)</p>
<p>Wabillahi At-Taufiq<br />
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi.</p>
<p>Footnote:</p>
<p>Kesepakatan ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’:42.<br />
2 Dalam satu riwayat Malik mengatakan: diangkat tangan pada awal takbir dalam shalat jenazah. Dalam riwayat lain beliau mengatakan: Aku senang agar kedua tangan diangkat pada empat kali takbir. (Al-Mudawwanatul Kubra: 176).<br />
3 Lihat: Al-Mughni,Ibnu Qudamah: 2/373,Jami’ At-Tirmidzi: 3/388, Al-Muhalla, Ibnu Hazm:5/124, Nailul Authar: 4:105, Al-Majmu’, An-Nawawi: 5/136, Al-Mudawwanatul Kubra, Imam Malik:176. Ahkamul Janaiz, Al-Albani:148. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi:4/44. Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Al-Baihaqi (3/169). Al-Umm,Asy-Syafi’i:1/271, Al-Hawi Al-Kabir (3/55).<br />
4 (HR. At-Tirmidzi:1077,Ad-Daruquhni (2/75), Abu Umar Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid (20/79).<br />
5 (HR. Daruquthni: (2/75), Al-Uqaili dalam kitab Adh-Dhu’afa’ (1500)<br />
6 Al-Mughni: 2/373.<br />
7 HR. Ad-Daruquthni dalam kitabnya “Al-Ilal”, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Mubarakfuri dalam At-Tuhfah (4/163), Az-Zaila’I dalam Nasbur Rayah (2/285).<br />
8 HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/271), Al-Baihaqi (4/44), dan dalam Ma’rifaus Sunan wal Atsar (3/169), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz (148).<br />
9 HR. Asy-Syafi’i sebagaimana yang disebutkan Al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar (3/170),namun dalam sanadnya terdapat dua kelemahan:<br />
Pertama:ada perawi yang bernama Salamah bin Wardan,dia lemah,dan lebih lemah lagi disaat dia meriwayatkan dari Anas bin Malik.<br />
Kedua: terdapat perawi yang mubham (tidak disebut namanya).<br />
10 Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dan berkata: diriwayatkan oleh Al-Atsram (Al-Mughni:2/240),juga lihat dalam Al-Mubdi’ (2/184). Dan juga diriwayatkan Al-Baihaqi (2/293),dan beliau mengatakan: ”hadits ini munqathi’ (terputus sanadnya).” Al-Albani juga melemahkannya dalam Al-Irwa’ (3/640).<br />
11 Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur,sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Al-Habir (2/146-147), dan beliau menshahihkannya.<br />
12 Qiyas ini disebutkan oleh Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/271).<br />
13 Al-‘Ilal,Ad-Daruquthni (9/150), Nashbur Rayah (2/285) ,At-Talkhis Al-Habir (2/146-147),Al-Badr al-Munir (5/387).<br />
14 Nashbur rayah (2/285), At-Talkhis Al-Habir (2/146-147),Al-Badr al-Munir (5/387).<br />
15 At-Talkhis Al-habir (2/146-147).<br />
16 Namun Syekh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidzahullah Ta’ala lebih condong menshahihkan hadits tersebut secara marfu’, disebabkan perawi Umar bin Syabbah adalah perawi yang terpercaya, dan tidak ada celah untuk melemahkan riwayatnya.Syekh Bin Baaz juga mengatakan tentang hadits ini: sanadnya jayyid (bagus). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 13/148)<br />
17 Majmu’ Fatawa Bin Baaz: 13/148.<br />
18 Fatawa Al-Lajnah no: 2514.<br />
19 Silsilah Liqa’ al-bab al-Maftuh, kaset no:179, set kedua.<br />
20 Al-Majmu’ (5/20), Mukhtashar ikhtilaf al-fuqaha,At-Thahawi (1/323),Al-Mughni (2/239),hilyatul ‘ulama (2/256), Al-Hawi Al-Kabir (2/491), Silsilah Liqa’ al-bab Al-Maftuh, no:224, set kedua.<br />
21 HR. Ahmad (2/133), Abu Dawud (722), Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa (178), Ad-Daruquthni (1/288), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (3/292). Berkata Al-Albani: sanadnya shahih berdasarkan syarat dua Syekh (Bukhari dan Muslim).Lihat: Irwa’ul Ghalil (3/113).<br />
22 HR.Ahmad (4/316), Ath-Thabarani (22/33), Dihasankan Al-albani dalam Al-Irwa’ (3/641).<br />
23 Ar-Raudhul Murbi’ (1/308), Al-Mughni (2/119).<br />
24 Riwayat Abdurrazzaq (3/5699), Al-Baihaqi (3/293),dengan sanad yang shahih.</p>
<p><a href="http://darussalaf.org/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=903">http://darussalaf.org/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=903</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=35&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/10/01/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir-takbir-jenazah-dan-dua-shalat-%e2%80%98ied-iedul-fithri-dan-iedul-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghidupkan Sunnah, kenikmatan tiada tara</title>
		<link>http://salafiindo.wordpress.com/2007/09/25/menghidupkan-sunnah-kenikmatan-tiada-tara/</link>
		<comments>http://salafiindo.wordpress.com/2007/09/25/menghidupkan-sunnah-kenikmatan-tiada-tara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 00:34:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A.Y.A</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiindo.wordpress.com/2007/09/25/menghidupkan-sunnah-kenikmatan-tiada-tara/</guid>
		<description><![CDATA[Menghidupkan Sunnah, kenikmatan tiada tara Penulis : Al Ustadz Abu Abdirrahman Abdul Aziz As Salafy Sesungguhnya kepatuhan seorang muslim kepada syariat Allah dan kecintaannya dalam mencontoh jejak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (baik berupa ucapan, perbuatan dan lain-lain), merupakan suatu bukti cintanya kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla. Apabila seorang hamba menjalankan agama sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=31&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Menghidupkan Sunnah, kenikmatan tiada tara<br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Penulis : Al Ustadz Abu Abdirrahman Abdul Aziz As Salafy</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Sesungguhnya kepatuhan seorang muslim </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">kepada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>syariat Allah dan kecintaannya dalam mencontoh jejak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (baik berupa ucapan, perbuatan dan lain-lain), merupakan suatu bukti cintanya kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla. Apabila seorang hamba menjalankan agama sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka hatinya akan tenang dan lapang. Semakin kuat rasa cintanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka akan terjalin kuat pula rasa cintanya kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu sebagai wujud rasa cinta kita kepada Allah Azza wa Jalla, mari kita hidupkan Sunnah Rasulullah yang telah dianggap asing di tengah-tengah ummat ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Al Qur’an membimbing kita untuk bersikap tengah-tengah dan sederhana dalam menjalankan ajaran agama Allah. Dan mencela sikap ekstrim (melampaui batas) serta sikap meremehkan agama-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman : </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>(An Nahl : 90)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dan firman-Nya : </span><span dir="rtl" style="font-size:10pt;font-family:'Traditional Arabic';position:relative;top:-4pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span dir="ltr"></span>“Katakanlah ; Rabbku memerintahkan untuk berbuat adil. </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>(Al A’raf : 29)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Ayat-ayat di atas memerintahkan kita untuk berlaku adil dan bersikap tengah-tengah dalam segala perkara. Baik dalam perkara aqidah, ibadah, adab, akhlak maupun muamalah sehari hari. Serta melarang dari lawannya, yaitu bersikap ekstrim dan meremehkannya pada banyak ayat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Di dalam beribadah kepada Allah, kita diperintahkan untuk berlaku adil. Yaitu berpegang teguh dengan apa saja yang diajarkan oleh Rasulullah dan dilarang melampaui ajaran-ajaran beliau shallallahu’alaihi wasallam. Tentunya dilandasi dengan niat ikhlas semata mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla dan mutaba’ah (mencontoh) sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Bisa jadi tidak semua dari ajaran-ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mampu untuk kita melaksanakannya, disebabkan kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Namun hal tersebut bukan menjadi pemicu untuk kita mencerca ajaran beliau dan orang-orang yang menghidupkan ajaran-ajarannya. Justru dengan bukti kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjadikan kita senantiasa senang mengikuti ajaran-ajaran beliau, walaupun dalam perkara-perkara yang dianggap remeh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Berikut ini adalah beberapa contoh perkara, yang mana kita diperintah untuk berlaku adil dan bersikap tengah-tengah di dalam mengamalkannya. Yakni sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :</span><span id="more-31"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dalam Perkara Sholat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span dir="rtl"></span><span style="font-size:18pt;font-family:'Traditional Arabic';position:relative;top:-4pt;"><span dir="rtl"></span>&#8230; لِيَصَلِّي أَحَدُكُمْ نَشَاطُهُ, فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُد</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span dir="ltr"></span>“Sholatlah salah seorang diantara kalian dengan berdiri, maka apabila merasa lelah hendaknya dia duduk.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>(Riwayat Bukhori dan Muslim dari hadits Anas radhiyallahu’anhu). </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Suatu ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam masuk ke masjid, tiba-tiba beliau mendapatkan seutas tali yang terikat diantara dua tiang. Lantas beliau bertanya : <em>“milik siapa tali ini?”</em> mereka menjawab : <em>“tali ini milik Zainab. Apabila dia lelah, maka dia mengikatkan tubuhnya dengan (tali tersebut).” </em>Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda : <em>“tidak, lepaskan (ikatan tali tersebut). Sholatlah salah seorang diantara kalian dengan berdiri, maka apabila merasa lelah hendaknya dia duduk.”</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Demikian pula Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:'Traditional Arabic';position:relative;top:-4pt;">عَلَيْكُمْ مِنْ الأَعْمَالِ مَا تُطِيْقُوْنَ, فَوَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَمِل حَتَّى تَمِلوا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span dir="ltr"></span>“Hendaklah kalian beramal semampu kalian, demi Allah sesungguhnya Allah tidak akan menyusahkan kalian hingga kalian menyusahkan diri kalian sendiri.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>(Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Demikian pula tatkala datang beberapa sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, lalu mengatakan : <em>“Adapun saya, saya akan melaksanakan sholat malam dan tidak akan tidur.”</em> Maka beliau bersabda : <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku lebih takut dan lebih bertaqwa kepada Allah daripada kalian. Akan tetapi aku….. tetap melaksanakan sholat malam dan tidur.”</em> (Riwayat Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dan juga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:'Traditional Arabic';position:relative;top:-4pt;">وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ, وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ, وَيَنَامُ سُدُسَهُ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span dir="ltr"></span>“Sholat yang paling disukai Allah adalah sholatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau tidur di pertengahan malam, lalu bangun disepertiga malam dan tidur diseperenamnya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span> </span>(Riwayat Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dalam Shohih Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda : <em>“Apabila salah seorang diantara kalian dihinggapi rasa kantuk di dalam sholat maka hendaknya dia tidur hingga hilang rasa kantuknya</em>”. (Riwayat Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dan dalam hadits Abu Hurairoh, dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : <em>“Apabila salah seorang diantara kalian hendak melaksanakan sholat malam lalu terasa berat melafadzkan ayat-ayat Al Qu’ran (karena rasa kantuk), sehingga dia tidak lagi mengetahui bacaannya. Maka hendaklah dia berbaring.”</em> (Riwayat Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmat. Tidaklah agama ini diturunkan melainkan memberi kemudahan dan keringanan kepada seorang hamba dalam menjalankannya. Sungguh benar firman Allah Ta’ala : <strong>“Tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” </strong>(Al Anbiya : 107)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Di dalam hadits-hadits tersebut juga mengandung makna bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak memerintahkan seseorang untuk tetap sholat dalam keadaan berdiri ketika mendapati dirinya lelah dan letih. Akan tetapi beliau justru memerintahkan untuk duduk. Dan hal ini sebagai wujud kasih sayang beliau terhadap ummat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dalam Perkara Puasa </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda : <em>“Berpuasalah dan berbukalah.”</em> (Riwayat Bukhori dan Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dan beliau bersabda : <em>“Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, karena sesungguhnya hal tersebut adalah puasa yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla.”</em> (Riwayat Bukhori dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Hal ini juga merupakan kasih sayang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada ummatnya. Beliau memerintahkan kepada ummat ini untuk berpuasa seperti yang dicontohkan beliau shallallahu’alaihi wasallam. Karena tidaklah beliau memerintahkan suatu perkara melainkan akan mendatangkan kemaslahatan dan kebaikan yang banyak. Seperti dalam hadits di atas, beliau memerintahkan untuk berpuasa dan demikian berbuka. Beliau tidak memerintahkan untuk berpuasa secara bersambung. Karena hal ini telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana sabda Beliau : <em>“Tidak ada puasa bagi orang yang melaksanakan puasa Al Abad (puasa terus menerus tanpa berbuka).”</em> (Dikeluarkan Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span></span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dalam Perkara Tilawah Al Qur’an</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Telah datang dari hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu’anhu, dia berkata : “Dulu aku pernah puasa Ad Dahr (terus menerus tanpa berbuka). Dan aku membaca Al Qur’an setiap malam. Maka beliau shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadaku : “Apakah engkau berpuasa Ad Dahr dan membaca Al Qur’an setiap malam?” lalu aku menjawab : “Wahai Nabi Allah! Tidaklah aku menginginkan hal tersebut melainkan hanya kebaikan.” Lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya cukup bagimu untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya.” Aku katakan : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku bisa lebih daripada itu.” Lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu, tamu-tamumu juga memiliki hak, dan jasadmu memiliki hak.” Lantas beliau melanjutkan : “Berpuasalah seperti puasa Daud Nabi Allah alaihis salam, karena dia adalah seorang hamba yang sangat banyak beribadah.” Kemudian aku katakan : “Wahai Nabi Allah! Apakah puasa Daud itu?” Beliau menjawab : “(yaitu) berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Lalu beliau melanjutkan : “Dan bacalah Al Qur’an setiap bulannya.” Aku katakan : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku bisa lebih daripada itu.” Kemudian beliau berkata : “Bacalah setiap dua puluh hari.” Aku katakan : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku bisa lebih daripada itu.” Kemudian beliau berkata : “Bacalah setiap sepuluh puluh hari.” Aku katakan : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku bisa lebih daripada itu.” Lantas beliau bersabda : “Bacalah pada setiap tujuh hari, dan jangan engkau tambah setelahnya, karena sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu, tamu-tamumu memiliki hak, dan jasadmu memiliki hak.” Lalu aku berkata : “Maka aku pun membebani diriku sendiri, sehingga teramat berat bagiku.” Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan kepadaku : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui, semoga umurmu panjang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Dalam sebuah riwayat disebutkan : <em>“Sesungguhnya kedua matamu memiliki hak, dirimu dan keluargamu juga memiliki hak.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan betapa nikmatnya menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak ada beban berat sedikitpun bila kita telah mengetahui ilmunya. Alhamdulillah agama ini mudah dan memberikan kemudahan setiap hamba di dalam melaksanakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span></span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dalam Perkara Infaq</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Lihatlah betapa indahnya hikmah syariat yang hanif ini, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : <strong>“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”</strong> Demikian pula Alah berfirman : <strong>“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”</strong> (Al Isro’ : 26-27)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Demikian pula lihatlah kepada firman Allah Ta’ala : <strong>“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”</strong> (Al A’raf : 31)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Sungguh ini adalah manhaj (metode) yang lurus, keadilan dan sikap tengah-tengah. Tidak bersikap boros dan tidak pula bakhil. Karena keduanya adalah prilaku yang tercela. Orang-orang yang boros merupakan teman-teman syaitan dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang boros. Demikian pula orang-orang yang berlaku bakhil, maka penyakit apakah yang paling parah daripada penyakit bakhil? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Barangsiapa yang mampu untuk mengekang kebakhilan yang ada pada dirinya, maka dia termasuk orang-orang yang beruntung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Dan di sana masih terdapat lagi nash-nash dari Al Qur’an dan As Sunnah yang sudah sepatutnya diketahui oleh seorang hamba, diantaranya : sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam : “Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara : <em>“…Dan seorang yang Allah memberinya harta, lalu dia membelanjakannya dalam kebenaran.”</em> (Riwayat Bukhori dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Demikian pula sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada Ka’ab bin Malik : <em>“Tahanlah untukmu sebagian dari hartamu.”</em> (Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Dan Abu Bakar ra ketika menemui Rasulullah dengan seluruh hartanya, lalu nabi shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya : <em>“Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?” lalu Abu Bakar menjawab : “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” </em>(Riwayat Abu Daud, Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;">Demikian juga Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan kepad Sa’ad bin Abi Waqqos : <em>“Sesungguhnya apabila engkau meninggalkan untuk para pewarismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan susah lagi meminta-meminta kepada manusia.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"><span>            </span>Demikianlah beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang bisa kami sebutkan dalam lembaran terbatas ini. Mudahan Allah memberi kemudahan untuk kita menjalankan agamanya dan menggolongkan kita termasuk orang-orang yang senantiasa setia mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam serta merasa nikmat di dalam menjalankannya. <em>Wallahu a’lam bish showab</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span dir="rtl" style="font-size:10pt;font-family:'Traditional Arabic';position:relative;top:-4pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;position:relative;top:-4pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiindo.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiindo.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiindo.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiindo.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiindo.wordpress.com&amp;blog=1650126&amp;post=31&amp;subd=salafiindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiindo.wordpress.com/2007/09/25/menghidupkan-sunnah-kenikmatan-tiada-tara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">A.Y.A</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
